Sejatinya hidupku cukup bahagia, aku memiliki keluarga yang nyaris sempurna, aku mempunyai seorang istri yang Alhamdulillah mampu aku kuliahan hingga jenjang S2 dan sekarang dia sudah mengajar di salah satu Universitas swasta di Sumatera Utara.
Kami memiliki sepasang anak yang lucu dan luar biasa. Anak pertama cowok, sejak kecil telah menunjukkan sifat yang penyayang, pengalah, dan bertanggung jawab layaknya seorang anak pertama, dirumah kami panggil dia Mas.
Aak kedua cewek, beda 4 tahun dengan mas nya, sifatnya selalu manja, cerewet, dan hobi makan, biasanya kami panggil Adik.
Kehidupan keluargaku terlalu sempurna untuk di cari celanya, di antara rekat sejawat yang sebaya denganku, aku cukup di depan jika di lihat dari kacamata materi maupun posisi. Tidak memiliki potongan gaji, bahkan tidak pernah cashbon ataupun hutang di koperasi.
Bahkan di tahun keemasanku aku memiliki tahun-tahun yang begitu luar biasa, dimulai dengan aku mampu membantu menaikkan derajat adik laki-lakiku menjadi seorang abdi negara, terbeli ebuah mobil LCGC warna merah (cukup lah untuk keluarga kecil kami), istriku melahirkan anak kedua, di lanjutkan dengan wisuda S2 istriku bertepatan dengan di wisudanya adik Perempuanku di hari yang sama.
Tak lama berselang aku mampu menamatkan jenjang pendidikanku yang kemudian mendongkrak jabatanku. Begitu indahnya, begitu sempurnanya. Dan yang lebih hebat lagi, itu semua terjadi dalam waktu yang tidak lebih dari 2 tahun.
Namun, di balik semua itu, aku menyimpan sesuatu yang nanti akan membuatku menyesal, membuatku frustrasi, membuatku depresi dan menghancurkan semua rasa kebanggaan yang ku miliki.
Berawal dari pekerjaanku yang selalu di belakang monitorlah aku mulai mengenalnya...